Rabu, 31 Oktober 2012

SELEMBAR KERTAS PUTIH



Seorang anak yang suka mencari-cari kesalahan dengan cekatan akan mampu menunjukan kesalahan teman-teman dan orang tuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orang tuanya. “Aku jatuh karena ayah meletakkan ember di sembarang tempat,” kata anak tersebut kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

“Kamu mengalami musibah ini karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu kalau berjalan harus hati-hati,” kata anak tersebut kepada seorang anak lain yang terkilir kakinya.

Pada suatu hari, anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. “Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu!”

Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak itu. Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja.

Satu …dua … tiga, lebah-lebah itu langsung menghajar dengan sengatan.

“Aduh, tolong!”

“Byurr!! Anak itu menceburkan dirinya ke sungai. Tak lama kemudian lebah-lebah itu pergi dan meninggalkan anak yang kesakitan itu.

“Mengapa ayah tidak menolongku? Jika ayah sayang padaku pasti ayah sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah ayah!”

Ayahnya diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

“Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?” “Itu hanya selembar kertas putih, tidak ada gambarnya, jawab anak itu”.

Kemudian ayahnya menorehkan titik berwarna hitam pada kertas putih itu.

“Apa yang kamu lihat pada kertas putih ini?”

Ada titik hitam pada kertas putih itu!”.
“Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah ayah lakukan padamu.”

Ayahnya berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.


Renungan

Banyak diantara kita yang masih melihat kekurangan lebih besar dari pada kebaikannya. Bahkan kita melakukan hal sama kepada orang yang kita kasih, orang yang paling dekat dengan kita.

Berapa kali kita mengoreksi kesalahan orang terdekat kita, menganggapnya tidak sebaik kita, mengkritik apa yang diucapkannya, dan sebagainya. Kita tidak sadar menilai mereka hanya dari kekurangansaja. Katika mereka lupa memberi perhatian karena kesibukannnya, kita menganggapnya egois. Kita sendiri lupa mereka bekerja keras adalah untuk kita juga. Perhatian juga tetap diberikan, hanya saja dengan bentuk yang berbeda.

Mari kita belajar mengoreksi dirisendiri sebelum menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk dari suatu masalah, tetapi lihat juga dari sisi baiknya.

0 komentar:

Posting Komentar

MUWAHID

Diberdayakan oleh Blogger.